Butuh Penawaran Harga Alat Survey?

Ilmu Ukur Tanah – Sifat Dasar Memanjang

14 Januari 2021 - Kategori Blog

Sifat Datar Memanjang adalah Beda tinggi antara dua titik di permukaan bumi didefinisikan sebagai selisih jarak terpendek antara dua bidang nivo yang melalui dua buah titik di atas permukaan bumi tersebut. Karena ketinggian titik referensi titik bereferensi terhadap permukaan air laut rata-rata yang mengikuti lengkungnya bumi maka setiap bidang nivo yang melalui titik-titik di permukaan bumi akan merupakan bidang-bidang atau garis-garis yang sejajar dengan permukaan air laut rata-rata (relatif sejajar).

datar-memanjang-1

Alat Ukur Sifat Datar

Alat ukur sipat datar secara umum memiliki skrup-skrup serta tombol-tombol sebagai berikut :

  • 3 buah pengatur nivo (skrup kiap), berfungsi untuk mengetengahkan gelembung nivo kotak.
  • Skrup pengunci gerakan horisontal, berfungsi untuk mengunci gerakan teropong pada arah horisontal.
  • Skrup gerakan halus horisontal, berfungsi untuk menggerakkan teropong secara perlahan-lahan pada arah horisontal.
  • Tombol pengatur benang diafragma, berfungsi untuk memperjelas bayangan benang diafragma pada lensa okuler.
  • Tombol pengatur bayangan, berfungsi untuk memperjelas bayangan pada lensa obyektif.
  • Nivo kotak, berfungsi untuk mendatarkan alat atau menegakkan sumbu I.
  • Alat pembidik (visier), berfungsi untuk pembidikkan ke rambu secara kasar (pendekatan).

Rambu Ukur

Untuk mendapatkan beda tinggi antara dua titik, dan jarak optis dari alat ke rambu di permukaan bumi diperlukan bacaan pada rambu ukur. Jenis rambu ukur yang digunakan yaitu rambu ukur tegak dan rambu ukur terbalik.

datar-memanjang-2

Posisi bacaan dilakukan pada saat :

  • Gelmbung nivo kotak berada di tengah.
  • Benang tegak (ertikal) berimpit pada tengah-tengah rambu ukur.
  • Benang diafragma tegak lurus sumbu I.
  • Rambu telah benar-benar tegak.

Alas Rambu

Alas rambu digunakan agar posisi rambu letaknya tetap dan tidak naik turun. Alas rambu ini digunakan pada saat posisi rambu berada pada titik-titik slag.

Alat Tulis dan Formulir Ukur

Untuk setiap penulisan data pada formulir ukur harus menggunakan pulpen, agar setiap data yang ditulis dapat terlihat dengan jelas dan tidak terhapus. Dalam penulisan data-data lapangan di formulir ukur harus ditulis dengan jelas :

  • nama pengukur,
  • penulis,
  • hari/tanggal pengukuran,
  • nama daerah pengukuran,
  • alat ukur yang digunakan beserta nomornya,
  • seksi pengukuran,
  • keadaan cuaca pada saat pengukuran.

 

Prinsip Pengukuran Sipat Datar Memanjang

Jika letak antara dua buah titik yang akan diukur beda tingginya cukup jauh, maka jalur pengukuran harus dibagi dalam beberapa seksi slag.

datar-memanjang-3

  • Seksi pengukuran terdiri dari beberapa slag.
  • Pengukuran satu seksi harus dilakukan dalam satu hari pengukuran pergi-pulang.

 

Syarat Pengukuran Sifat Datar

Untuk memenuhi hasil pengukuran yang diinginkan dengan membuat kesalahan-kesalahan sekecil mungkin maka diperlukan syarat-syarat pada pengukuran sipat datar sebagai berikut :

  • Jika jalur pengukuran sipat datar tidak dapatdi selesaikan dalam satu hari karena jauh, maka jalur pengukuran dibagi dalam seksi.
  • Untuk setiap seksi pengukuran diatur dalam slag genap.
  • Ceking garis bidik dilakukan pada awal dan akhir pengukuran.
  • Usahakan penempatan alat ukur kira-kira berjarak relatip sama dari rambu belakang maupun ke rambu muka, apabila sulit untuk penempatan alat tersebut pada permukaan yang miring (lereng), sebaiknya dengan cara lain diusahakan jumlah jarak jarak belakang relatip sama dengan jumlah jarak muka pada akhir pengukuran untuk setiap seksinya.
datar-memanjang-4
  • Pembacaan skala rambu didahulukan ke rambu belakang, baru selanjutnya ke rambu muka, hal ini dilakukan untuk menghindari kekeliruan tanda beda tinggi (+) atau (-).
  • Setiap pindah slag, rambu muka menjadi rambu belakang dan rambu belakang menjadi rambu muka (perpindahan rambu sistim loncat).
datar-memanjang-5
  • Untuk ketelitian pengukuran dan untuk mengurangi kesalahan akibat refraksi pengukuran dilakukan double stand dan pergi-pulang.
datar-memanjang-6
  • Urutan pengamatan di lapangan
    • Terlebih dahulu dibaca : baca benang tengah (BT)
    • Kedua : baca benang atas (BA)
    • Ketiga : baca benang bawah (BB)
    • Kontrol bacaan (BT) : 2 BT – (BA-BB) ≤ ± 0,002 m
    • Kontrol beda tinggi double stand : (Δh1 – Δh2) ≤ ± 0,002 m
    • Hitung Jarak :
      datar-memanjang-7

       

    • Setiap Pertambahan Slag, Jarak Selalu dijumlahkan sampai akhir pengukuran dalam satu seksi:

   datar-memanjang-8

    • Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kesalahan akibat kemiringan garis bidik, karena umumnya setiap alat tidaklah sempurna dan selalu dihinggapi kesalahan.
      datar-memanjang-9
    • Selama pengukuran alat selalu dipayungi untuk menghindari panas matahari.
    • Jarak penghilatan antara alat ke rambu sebaiknya berkisar antara 30 meter sampai dengan 60 meter.
    • Saat terbaik pengukuran : Pagi : pkl. 06.00 – pkl. 11.00 Sore : pkl. 15.00 – pkl. 18.00 Akibat panas matahari dapat merubah gelembung nivo.
    • Pemasangan rambu sebaiknya ditempatkan di atas alas rambu, patok kayu atau di atas pilar beton.
    • Akhir pengukuran dilakukan kembali ceking garis bidik.

Cara Pengisian Formulir Sifat Datar

  • Tulislah pertama kali nama pengukur, nama penulis, tanggal pengukuran, daerah pengukuran, alat dan nomornya, keadaan cuaca.
  • Tulislah angka-angka bacaan dengan rapih.
  • Setiap kesalahan menulis tidak boleh dihapus melainkan dicoret.
  • Penulis mengulangi ucapan pengukur sambil menuliskan bacaan pengukur.
  • Urutan pengisisan formulir ukur :
    • Bacaan ke rambu belakang :
      • BTb, BAb, BBb
      • Cek 2BTb – (BAb+BBb) ≤ ±0,002 m
      • Hitung jarak db = 100x |BAb – BBb|
    • Bacaan ke rambu muka :
      • BTm, BAm, BBm
      • Cek 2BTm – (BAm+BBm) ≤ ±0,002 m
      • Hitung jarak dm = 100x |BAm – BBm|
      • Hitung beda tinggi stand satu (Δh1) = BTb1 – BTm1
      • Ulangi bacaan BT ke rambu belakang dan BT ke rambu muka setelah alat diubah pada posisi stand dua.
      • Hitung beda tinggi stand dua (Δh2) = BTb2 – BTm2
      • Kontrol beda tinggi kedua stand tersebut : (Δh1) – (Δh2) ≤ ± 0,002 m
      • Lakukan hal yang sama pada slag-slag berikutnya.
      • Tulislah selalu nomor slag dan nomor titik.
      • Tulislah keterangan-keterangan seperlunya dan buat skets pada formulir ukur.

Hitungan Data Pengamatan

  • Jika jalur pengukuran sipat datar memanjang terikat hanya pada satu titik (titik awal), maka data hasil pengamatan tidak ada koreksi salah penutup beda tingginya. Misal :

datar-memanjang-10

Hitung masing-masing tinggi titik-titik B dan C?

 

datar-memanjang-11

  • Jika jalur pengukuran sipat datar memanjang terikat pada titik awal dan titik akhir, maka data hasil pengamatan harus dikoreksi karena salah penutup beda tingginya. Misal :

datar-memanjang-12

 

  •  Untuk kasus ini syarat tersebut tidak dipenuhi, artinya terdapat kesalahan :

datar-memanjang-13

Hitungan koreksi diatas dengan cara membagi rata dengan asumsi bahwa jarak dAB sama dengan jarak dBC, bila jarak dAB tidak sama dengan jarak dBC maka pemberian koreksi dilakukan dengan cara perbandingan jarak.

Misalkan dAB = 50 m dan dBC = 125 m, maka koreksi :

datar-memanjang-14

 

1, Peralatan Yang Digunakan

Pada pengukuran sipat datar memanjang peralatan yang digunakan :

  • Dua buah rambu ukur
  • atu buah alat sipat data
  • Alas rambu (straatpot)
  • Alat tulis + formulir ukur

2, Prosedur Pengukuran

datar-memanjang-15

  1. Lakukan pengamatan kesalahan garis bidik sebelum pengukuran.
  2. Tentukan jalur/arah pengukuran, bila antara titik merupakan seksi, maka
  3. Membagi dua slag antara titik A dan B, misal di titik h1.
  4. Dirikan rambu di titik A (sebagai rambu belakang) dan di titik h1 (sebagai rambu muka).
  5. Dirikan alat kira-kira di tengah antara titik A dan h1.
  6. Atur alat sehingga siap pakai untuk stand 1.
  7. Arahkan ke rambu di titik A, baca dan catat BT, BA dan BB.
  8. Cek hasil bacaan 2BT – (BA+BB) £ ± 0,002 m.
  9. Putar alat arahkan ke rambu di titik h1.
  10. Ulangi seperti langkah 7 dan 8 dan hitung beda tingginya (Dh1).
  11. Pindahkan alat ke kiri atau ke kanan untuk pengukuran stand 2.
  12. Atur alat sehingga siap pakai.
  13. Arahkan ke titik A, baca dan catat BT saja.
  14. Putar alat arahkan ke titik h1, baca dan catat BT saja dan hitung beda tingginya (Dh2).
  15. Cek beda tinggi : (Dh1 – Dh2) £ ± 0,002 m.
  16. Pindahkan alat kira-kira di tengah antara titik h1 dan B.
  17. Ulangi seperti langkah 6 s.d 15 sampai pengukuran selesai.
  18. Lakukan pengamatan kesalahan garis bidik sesudah pengukuran.

 

Terima Kasih dan Semoga Bermanfaat!

Sumber :
Teknik Geodesi, ITENAS-BANDUNG

Geodesi, Ilmu Pemetaan, Ilmu Survey, Ilmu Ukur Tanah, Sifat Datar Memanjang

error: Maaf ga bisa di klik kanan!!!