Proses penarikan garis kontur pada peta sangat bergantung pada ketersediaan data titik-titik tinggi (spot height). Semakin banyak titik tinggi yang diperoleh di lapangan, maka semakin mudah, halus, dan akurat pula hasil garis kontur yang digambarkan.
Garis kontur sendiri adalah garis imajiner pada peta yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian yang sama.
Oleh karena itu, untuk dapat menggambarnya diperlukan teknik interpolasi agar diperoleh posisi titik dengan elevasi tertentu di antara data titik tinggi yang tersedia.
Dalam praktiknya, ada dua metode utama untuk pengukuran kontur, yaitu cara langsung dan cara tidak langsung.
- Pengukuran kontur secara langsung dilakukan dengan menghubungkan langsung titik-titik di lapangan yang memiliki ketinggian sama. Dengan demikian, garis kontur yang terbentuk adalah representasi langsung dari data pengamatan.
- Pengukuran kontur secara tidak langsung dilakukan pada titik-titik detail yang posisinya tidak selalu berada pada ketinggian yang sama. Artinya, titik yang diperoleh di lapangan merupakan titik sembarang dengan elevasi berbeda-beda. Untuk itu, perlu dicari titik-titik antara yang memiliki elevasi sama dengan garis kontur yang ingin digambarkan.
Apabila titik detail yang didapat belum menunjukkan kesamaan tinggi, maka posisi titik dengan ketinggian tertentu dapat dihitung menggunakan prinsip segitiga sebangun.
Dengan metode ini, titik kontur yang berada di antara dua titik tinggi akan dicari melalui perhitungan perbandingan jarak dan perbedaan elevasi.
Untuk melakukan interpolasi garis kontur, data utama yang harus dimiliki adalah:
- Jarak antara dua titik tinggi yang telah dipetakan.
- Nilai ketinggian definitif dari kedua titik tersebut.
- Elevasi atau tinggi garis kontur yang akan ditarik.
Hasil dari perhitungan ini berupa posisi titik kontur yang terletak di sepanjang garis penghubung antara dua titik tinggi. Posisi tersebut dinyatakan dalam bentuk jarak relatif terhadap titik pertama atau titik kedua. Titik-titik hasil interpolasi kemudian dihubungkan satu sama lain sehingga membentuk garis kontur yang lengkap dan menyeluruh pada peta.
3 Cara Interpolasi Linear Garis Kontur
Karena pada praktik pemetaan umumnya tidak semua titik detail berada pada elevasi yang sama, maka interpolasi linear menjadi metode yang paling sering digunakan untuk menentukan titik-titik kontur. Interpolasi linear dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, yaitu:
a. Cara Taksiran (Visual)

Pada metode ini, titik-titik dengan elevasi sama ditentukan secara perkiraan dengan cara menginterpretasikan langsung posisi di antara titik-titik yang sudah diketahui ketinggiannya.
b. Cara Perhitungan (Numeris)

Metode numeris memanfaatkan dua titik yang posisinya dan ketinggiannya telah diketahui. Kita melakukan perhitungan interpolasi secara matematis dengan menggunakan prinsip perbandingan linear sehingga menghasilkan hasil yang lebih eksak.
c. Cara Grafis

Metode ini menggunakan kertas transparan (seperti kalkir atau kodatrace) yang digarisi secara sejajar dengan interval tertentu sesuai dengan selang ketinggian kontur yang dicari. Garis-garis tersebut membantu menentukan posisi titik-titik kontur secara grafis.
Dengan metode interpolasi yang tepat, kita dapat melakukan penarikan ini dengan lebih akurat sehingga menghasilkan peta yang mampu merepresentasikan kondisi topografi lapangan secara jelas. Hal ini sangat penting dalam perencanaan teknik sipil, pemetaan, hingga analisis spasial lainnya.



