Halo Sobat Survey, Kembali lagi di Artikel Indosurta. Kita semua tahu kalau infrastruktur yang baik itu penting banget buat kesejahteraan dan perkembangan suatu negara, kan? Nah, di zaman sekarang, teknologi digital memiliki peran yang besar untuk mewujudkan infrastruktur yang tidak hanya kuat, namun juga efisien dan dapat digunakan secara berkelanjutan.
Salah satu teknologi canggih yang lagi naik daun dan penting banget di dunia pembangunan adalah GNSS atau Global Navigation Satellite System. Buat Sobat Survey yang penasaran, yuk kita bahas kenapa teknologi ini sangat krusial dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia!
Apa itu GNSS dan Kenapa Penting?
Jadi, GNSS itu adalah sistem navigasi yang menggunakan satelit untuk menentukan posisi atau koordinat di permukaan bumi. GNSS ini terdiri dari beberapa sistem satelit terkenal, seperti GPS, GLONASS, Galileo, dan BeiDou.

Dengan teknologi ini, kita bisa mendapatkan pengukuran yang sangat akurat, bahkan bisa sampai milimeter yang dapat membantu pekerjaan pengukuran pada berbagai macam proyek infrastruktur besar, contoh seperti pembangunan jalan tol, jembatan, dan sistem MRT (Mass Rapid Transit).

Di Indonesia, GNSS memainkan peran penting dalam memastikan ketepatan dan efisiensi, dalam pembangunan proyek-proyek besar. Misalnya, di proyek MRT Jakarta, GNSS digunakan untuk memastikan jalur kereta bawah tanah tetap tepat meski melalui berbagai zona perkotaan yang punya topografi beragam. Dengan GNSS, survei bisa dilakukan lebih cepat, akurat, dan tanpa harus repot-repot memindahkan alat secara manual.
Tantangan yang Dihadapi GNSS di Indonesia
Tapi, Sobat Survey, meskipun GNSS itu canggih, implementasinya di Indonesia nggak selalu mulus. Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, terutama karena kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam.
Beli juga: GPS Geodetik/GNSS Hi-Target V200 RTK
Misalnya, di kota besar dengan banyak gedung tinggi, sinyal GNSS bisa terhalang atau bahkan terpantul, yang bisa bikin hasil pengukuran jadi nggak akurat.
Selain itu, di daerah pedalaman seperti hutan-hutan di Sumatra dan Kalimantan, sinyal GNSS sering terhambat karena banyaknya pohon besar, yang membuat pengukuran jadi kurang tepat.
Salah satu tantangan besar GNSS di Indonesia adalah terbatasnya jumlah stasiun CORS (Continuous Operating Reference Stations) yang penting buat mendukung GNSS. Saat ini, Indonesia cuma punya sekitar 25 stasiun CORS (Badan Informasi Geospasial, 2020), padahal untuk jangkauannya lebih luas, idealnya harus ada lebih dari 100 stasiun yang tersebar di seluruh negeri.

Jadi, di daerah yang jauh dari stasiun-stasiun itu, survei masih banyak dilakukan secara manual atau semi-manual, yang tentu saja lebih lambat dan bisa menambah kemungkinan kesalahan.
Proyek Infrastruktur yang Memanfaatkan GNSS
Di Indonesia, sudah ada beberapa proyek besar yang mulai memanfaatkan GNSS untuk memastikan hasil yang lebih cepat dan akurat. Salah satunya adalah proyek Trans-Jawa, yang menghubungkan kota-kota besar di Pulau Jawa dengan jalan tol.
GNSS membantu mempercepat proses survei lahan dan perencanaan, serta mengurangi kesalahan pengukuran yang sering terjadi pada metode konvensional. Bahkan, menurut Kementerian PUPR (2022), penggunaan GNSS di proyek ini bisa menghemat waktu survei hingga 30%, loh!
Selain itu, di MRT Jakarta yang sangat kompleks ini, GNSS digunakan untuk memastikan jalur kereta tetap sesuai dengan perencanaan, meski ada banyak gedung tinggi yang bisa mengganggu sinyal. Dengan GNSS, tim survei bisa mendapatkan hasil dalam hitungan detik tanpa perlu repot-repot pindah alat survei dari satu lokasi ke lokasi lain.
Solusi Mengatasi Tantangan GNSS di Indonesia
Nah, Sobat Survey, walaupun ada tantangan, jangan khawatir! Ada beberapa solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah ini. Salah satunya adalah dengan memperluas jaringan stasiun CORS di seluruh Indonesia.
Badan Informasi Geospasial (BIG) sudah merencanakan dan melakukan penambahan stasiun CORS di beberapa wilayah terpencil, yang diharapkan bisa meningkatkan akurasi pengukuran GNSS di seluruh negeri, baik di perkotaan maupun pedalaman.
Selain itu, pelatihan yang lebih intensif buat tenaga kerja yang terlibat dalam proyek infrastruktur juga sangat penting. Di sini, institusi seperti ITB dan BIG bisa ikut berperan dalam meningkatkan program pelatihan dan sertifikasi untuk memastikan para tenaga kerja bisa memanfaatkan teknologi GNSS dengan optimal.
Teknologi lainnya yang bisa jadi solusi adalah Inertial Measurement Unit (IMU). IMU ini bisa membantu menjaga kestabilan pengukuran meskipun sinyal GNSS terhalang atau terganggu, misalnya di daerah perkotaan dengan banyak gedung atau di hutan yang padat.
Selain itu, teknologi Augmented Reality (AR) juga bisa membantu visualisasi data survei di lapangan, sehingga tim survei bisa lebih cepat menyesuaikan hasil survei dengan kondisi di lapangan.
Kesimpulan
Nah itu dia sobat survey mengenai masa depan GNSS di Indonesia. meski GNSS menawarkan banyak manfaat untuk pembangunan infrastruktur, tantangan seperti gangguan sinyal dan keterbatasan stasiun CORS perlu diatasi.
Dengan adanya jaringan CORS dari Hi-Target dan BIG, meningkatkan pelatihan, dan mengadopsi teknologi seperti IMU dan AR, penggunaan GNSS bisa dimaksimalkan. Teknologi ini memiliki potensi besar untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi pembangunan infrastruktur di Indonesia.
cukup sampai disini ya sobat. Semoga penjelasan diatas bermanfaat dan manambah ilmu pengetahuan sobat. kalau kamu punya pertanyaan lebih lanjut mengenai Masa Depan GNSS di Indonesia, bisa DM kita di Instagram @indosurtagroup ya! Jangan lupa cek artikel indosurta lainnya juga ya. Semoga membantu!
Article by: Muhammad Radja Adzka
Sumber:
- Badan Informasi Geospasial (BIG). (2020). Peta Infrastruktur CORS di Indonesia. Diakses dari https://www.big.go.id
- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). (2022). Penggunaan GNSS dalam Proyek Infrastruktur di Indonesia. Jurnal Teknologi Pembangunan, 5(2), 45-67.
- Mulyani, A. & Setiawan, B. (2021). Pengembangan Stasiun CORS dan Dampaknya Terhadap Akurasi GNSS di Indonesia. Geodesi Indonesia, 10(1), 15-30.
- Pratama, R. A. (2023). Teknologi IMU dan Augmented Reality dalam Penggunaan GNSS di Indonesia. Jurnal Teknologi Geospasial, 12(4), 78-93.
- Surta, A. A. (2022). Potensi dan Tantangan GNSS untuk Pembangunan Infrastruktur di Wilayah Terpencil. Prosiding Seminar Nasional GNSS, 3(1), 123-135. Diakses dari https://indosurta.co.id
- Republika



