Pedoman Pelaksanaan Metode Poligon dalam Survei Pemetaan Sesuai SNI

Pedoman Pelaksanaan Metode Poligon dalam Survei Pemetaan Sesuai SNI

Surveyor dapat menentukan posisi titik-titik pada jaringan di permukaan bumi dengan dua cara, yaitu secara terestris maupun ekstra-terestris.

Pada metode terestris, surveyor menentukan posisi suatu titik dengan melakukan pengamatan langsung terhadap target atau objek yang ada di permukaan bumi.

Saat ini, surveyor umumnya menggunakan beberapa metode terestris seperti metode poligon, metode pengikatan ke muka (intersection), metode pengikatan ke belakang (resection), atau kombinasi dari metode-metode tersebut.

Setiap metode memiliki karakteristik tertentu yang biasanya ditunjukkan melalui ilustrasi skematis.

Selain itu, sebenarnya terdapat metode penentuan posisi terestris lain seperti triangulasi, trilaterasi, maupun triangulaterasi. Akan tetapi, metode-metode tersebut pada masa kini sudah jarang digunakan, khususnya setelah berkembangnya teknologi penentuan posisi berbasis satelit yang jauh lebih praktis dan akurat.

Dalam proses penyediaan jaringan titik kontrol horizontal, metode pengukuran poligon hingga kini masih dipakai, terutama untuk pembuatan jaringan titik kontrol orde-4.

Pada jaringan ini, jarak antar titik biasanya berkisar sekitar 100 meter. Alasan metode poligon masih dipilih adalah karena fleksibilitasnya yang tinggi, terutama untuk penyesuaian dengan kondisi lapangan yang sangat lokal.

Misalnya, di wilayah yang memiliki banyak pepohonan rapat atau perumahan padat, penggunaan metode pengamatan berbasis GPS seringkali terganggu. Dalam kondisi seperti inilah metode poligon menjadi solusi yang lebih efektif.

 

Karakteristik Metode Poligon

Karakteristik Metode Poligon
Sumber: SNI 19-6724-2002

Metode poligon merupakan salah satu metode penentuan posisi dua dimensi secara terestris, di mana rangkaian titik-titik dihubungkan sehingga membentuk sebuah poligon.

Pada metode ini, koordinat titik-titik, baik dalam bentuk (x, y) maupun (E, N), ditentukan berdasarkan hasil pengamatan sudut-sudut horizontal pada setiap titik poligon serta pengukuran jarak horizontal antar titik yang saling berdekatan.

Pengukuran sudut pada metode poligon biasanya dilakukan menggunakan instrumen theodolit, sementara pengukuran jarak dapat dilakukan dengan pita ukur ataupun alat Electronic Distance Measurement (EDM).

Titik-titik ikat yang dipakai dalam metode ini adalah titik yang koordinatnya sudah diketahui terlebih dahulu. Sebagai contoh, titik A, B, C, dan D digunakan sebagai titik ikat untuk menentukan posisi titik-titik baru pada poligon.

Kualitas koordinat dari titik-titik poligon yang diperoleh dalam pengukuran akan sangat bergantung pada kualitas titik kontrol (titik ikat) yang dipakai, ketelitian data jarak dan sudut yang diukur, serta bentuk geometri poligon itu sendiri.

 

Penentuan Koordinat Titik Poligon

Penentuan Koordinat Titik Poligon
Sumber: SNI 19-6724-2002

Dalam metode poligon, koordinat horizontal dari suatu titik dapat ditentukan berdasarkan rumus dasar sebagai berikut:

  • Xj = Xi + dij × sin Aij
  • Yj = Yi + dij × cos Aij

Keterangan:

  • dij adalah jarak antara titik i dan titik j,
  • Aij adalah sudut jurusan sisi antara titik i dan titik j.

Sudut jurusan awal dalam jaring poligon bisa ditentukan dengan dua cara, yaitu dengan pengamatan langsung terhadap matahari atau dengan perhitungan menggunakan koordinat dari dua titik awal yang sudah diketahui posisinya.

Jika menggunakan dua titik awal, misalnya titik A dan titik B, maka sudut jurusan (azimuth) sisi AB dapat dihitung dengan rumus:

AAB = arctan (ΔX / ΔY),

dengan ΔX = XB – XA dan ΔY = YB – YA.

Perlu dicatat bahwa sudut jurusan dari suatu sisi jika dihitung dari kedua ujungnya akan berbeda sebesar 180°.

Misalnya, untuk sisi AB, sudut jurusan ABA = AAB – 180°. Sementara itu, sudut jurusan untuk sisi-sisi lainnya dalam poligon dapat dihitung berdasarkan sudut jurusan awal serta sudut-sudut hasil pengukuran, menggunakan rumus:

Ajk = Aij + (βj – 180°).

Hubungan antara dua sudut jurusan
Sumber: Geomasi.com

 

Kontrol Kualitas dalam Pengukuran Poligon

Salah satu cara untuk mengontrol kualitas dari hasil pengukuran poligon adalah dengan menilai adanya kesalahan penutup pada absis, ordinat, maupun sudut. Perhitungan kesalahan tersebut didasarkan pada rumus-rumus berikut:

  • fX = Σ(dij × sin Aij) – (Xakhir – Xawal)
  • fY = Σ(dij × cos Aij) – (Yakhir – Yawal)
  • fβ = Σ(βi) – n × 180° – (Aakhir – Aawal)

Dari kesalahan penutup absis (fX) dan ordinat (fY), dapat pula ditentukan kesalahan penutup jarak (fd), dengan rumus:

  • fd = √(fX² + fY²).

Untuk jaringan kontrol horizontal orde-4 yang menggunakan metode poligon, ada syarat kualitas yang harus dipenuhi, yaitu:

  • fd / (Σd) < 1/6000
  • fβ < 10″√n

Dengan keterangan Σd adalah jumlah total jarak hasil pengukuran, dan n adalah jumlah titik poligon.

Kunci dari keberhasilan metode poligon tidak hanya terletak pada peralatan yang digunakan, tetapi juga pada kedisiplinan surveyor dalam menerapkan prosedur, memperhatikan faktor kesalahan penutup, serta memilih metode perhitungan yang sesuai.

Dengan pemahaman yang menyeluruh, metode poligon tetap akan menjadi fondasi yang kuat dalam praktik survei pemetaan, baik sebagai metode utama maupun sebagai pelengkap teknologi modern.

 

Referensi

Artikel lainnya